Siapa Yang Menang? Perang Branding Tokopedia Vs Bukalapak

By | 21 May 2017

iklan mas medok

Dunia e-Commerce semakin menjadi-jadi di bumi Nusantara, seakan menemukan marwahnya di Indonesia. Sungguh orang-orang Indonesia, khususnya anak-anak mudanya sudah “Gila-gilaan”. Sulit saya menggambarkan kondisi sekarang ini (hee.. karena saya bukan pengamat). Makanya kesulitan, bingung mau buat kesimpulan, hanya bisa berujar “Gila Belanja Online”.

Jualan apa saja apa saja dionline-kan, bisnis model apapun juga dionline-kan termasuk bisnis esek-esek dan bisnis produk-produk mistik. Hee.., coba saja Anda cari di Google dengan menuliskan kata kunci “jual tuyul” maka di sana Anda akan menemukan banyak link halaman penawaran orang-orang yang dalam tanda kutip “waras” menurut orang “gila” tidak mau kalah memanfaatkan kecanggihan internet dalam dunia bisnis.

Marketplace Paling Gila
Pada kesempatan ini, saya sedikit share menyoal fenomena di atas, kenapa anak-anak muda pada suka dan “Gila Belanja Online”. Saya mulai bahas tentang marketplace. Tentu Anda sudah paham apa itu marketplace di dunia e-Commerce, jika belum tahu silahkan googling dulu sebelum meneruskan baca artikel ini.

Menyoal marketplace yang paling gila di Indonesia, saya tidak bisa menemukan raksasa-raksasa toko online, kecuali Tokopedia dan Bukalapak. Anda pasti sudah kenal 2 toko Online raksasa ini kan.., Keduanya ibarat raja raksasa yang sedang beradu tahta di republik ini, semua amunisi dan strategi yang dipraktekkan benar-benar mirip peperangan dalam dongeng-dongeng klasik berlatar kerajaan.

Bukan hanya soal berebut traffic untuk dijadikan pelanggan mereka, tapi dalam hal adu gagasan yang dipamerkan untuk menjaring konsumen yang bikin para pelanggan “mengangguk-angguk” terkesima. Gagasan buntu (mentok) bukanlah spirit Tokopedia dan Bukalapak, karena watak unik dan gila kedua marketplace ini memang telah lahir dari sosok pendirinya – William Tanuwijaya dan Achmad Zaky.

Keunikan yang dimiliki Tokopedia dan Bukalapak tergambar dalam setiap kemasan-kemasan iklan yang dipromosikan ke khalayak konsumen. Tentu Anda, yang setiap hari nonton TV dan scrooling di akun jejaring sosial facebook sering menjumpai iklan-iklan mereka. Tokopedia berhasil menjaring dan mengikat kuat pelanggan dengan menggandeng artis cantik populer “Chelsea Islan dan Isyana Saraswati” dengan tagline yang menggoda “Sudah Cek Tokopedia Belum?”. Bukalapak tak mau kalah, harus merebut pelanggan dengan bantuan “Mas Medok” Pendekar Jari Saktinya.

Peran Chelsea sebagai artis blasteran Indo – Amerika telah menjadi magnet untuk kalangan anak muda yang gandrung dengan belanja online. Kepiawaian Chelsea menjadi duta dagang Tokopedia, tidak lepas dari kepopulerannya memerankan film Merry Riana. Rasanya Tokopedia tidak mau menyia-nyiakan boomingnya Film Mery Riana, makanya Chelsea dilamar jadi brand ambassador.

Sementara Isyana Syaraswati, sebagai kelanjutan Chelsea juga menambah kuat effek kegandrungan anak-anak muda untuk berbelanja di Tokopedia. Tidak ragukan lagi, Isyana yang awal karirnya merintis menjadi artis Youtube, dan menjadi populer album-albumnya juga tidak mau disia-siakan Tokopedia. Hampir di setiap iklan TV dan Media Sosial, Tokopedia wajah Isyana yang cantik dan anggun menjadi daya tarik anak-anak muda untuk terus memasang applikasi Tokopedia di Gadgetnya.

Bagaimana dengan Bukalapak?
Bukan Bukalapak kalau iklannya terkesan nyentrik di mata para konsumen. Bukalapak di sisi korporasi startup Indonesia selalu mempersepsikan diri agar selalu dianggap membela dan membantu orang-orang kelas menengah bawah.

Lihat saja, siapa bintang iklan yang menjadi brand ambassador Bukalapak? Jauhkan bedanya.., dengan Tokopedia. Sepertinya Bukalapak memang akan terus konsisten mencari titik kontrasi dari kompetitor utamanya, Tokopedia. Di mana Tokopedia menginovasi brand mereka, maka Bukalapak rasanya wajib mengkontraskan ide-idenya.

Disinilah muncul kesan di bawah alam sadar konsumen, bahwa Tokopedia selalu bersinggungan dengan gelamoritas dalam hal branding market, sisi kecantikan dan estetika menjadi milik Tokopedia, maka berani melamar serentetan artis-artis yang sedang naik daun di dunia entertainment.

Lain halnya Bukalapak, inilah sisi kontras dalam branding Marketnya; mengesankan brandingnya milik orang-orang kelas bawah, yang seba pas-pasan. Maka dimunculkanlah sosok “Mas Medok” oleh Bukalapak sebagai brand Ambassador. Sapaan mas Medok menjadi magnet bagi para penjual maupun konsumen untuk selalu berbuat kebaikan.

Mengapa memilih “Mas Medok, bukan artis papan atas?
Sebut saja, “Mas Medok; Pendekar Jari Sakti” video series yang diluncurkan Bukalapak. Film pendek yang dirilis via channel Youtube, mengisahkan kumpulan-kumpulan cerita inspirasi kesuksesan dari para membernya. Sosok “Mas Medok dalam video series yang diputar di Youtube dan Facebook, menjadi duta dagang Bukalapak dengan gaya-gaya visual kaum melarat.

Bukalapak selalu ingin menyampaikan pesan dan inspirasi dari orang-orang yang “bertaubat” dari masa kelam hingga menjadi orang-orang baik. Lihat saja iklan Bukalapak “Mas Medok” yang hingga postingan ini diterbitkan sudah mencapai episode yang ke-8 dengan judul “Kekuatan Tanpa Tanding”. Juga telah rilis seaseon 2 “Mas Medok Returns”.

Bagi Anda yang penasaran dengan branding market Bukalapak seputar Mas Medok, silakan searching di channel youtube Bukalapak, dan nikmati daftar episodenya.

Itulah perbedaan antara Tokopedia dan Bukalapak dalam branding marketnya. Keduanya sama-sama kuat memberikan inspirasi bagi member-membernya agar selalu berjualan secara kreatif dan unik. Keduanya juga berusaha mendekatkan konsumen dengan kearifan-kearifan lokal Kebangsaan Indonesia.

Lalu pertanyaannya, siapa yang unggul dan paling diterima oleh konsumen? Jawabannya adalah, sama-sama kuat. Keduanya memiliki strategi yang jitu dalam “lead magnet” brandingnya. Dan perang branding akan terus berlangsung dan semakin seru!. Selamat menyaksikan di layar televisi dan layar akun sosial Anda.

Bongkar Rahasia Bisnis Online? Daftar Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *